Pak Totok Triyadi
Senin, 02 Januari 2012
Phylosophy, Psychology, Math Educ, and English: Elegi Ritual Ikhlas I: Cantraka Sakti belum Ikhlas...
Phylosophy, Psychology, Math Educ, and English: Elegi Ritual Ikhlas I: Cantraka Sakti belum Ikhlas...: Oleh Marsigit Cantraka Sakti: Waha sini saudaraku, Cantraka Awam, bagaimana khabarnya? Engkau dari mana kok bisa sampai kesini untuk meng...
Phylosophy, Psychology, Math Educ, and English: Forum Tanya Jawab 14: Filsafat Pendidikan Matemati...
Phylosophy, Psychology, Math Educ, and English: Forum Tanya Jawab 14: Filsafat Pendidikan Matemati...: Ass, untuk Mahasiswa S1 P. Matematika dan S2 P. Matematika: Identifikasikan obyek formal dan obyek material dari Filsafat Pendidikan Matem...
Minggu, 01 Januari 2012
Phylosophy, Psychology, Math Educ, and English: Metafisika Filsafat
Phylosophy, Psychology, Math Educ, and English: Metafisika Filsafat: Oleh Marsigit Ass karena pentingnya isi dan pesan dari elegi berjudul Forum Tanya Jawab 53: Dialog Filsafat, maka berikut saya tayangkan k...
Jumat, 30 Desember 2011
Selasa, 13 Desember 2011
MEMAHAMI HAKEKAT METODE INOVATIF YANG DILAKSANAKAN DI SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
MEMAHAMI HAKEKAT METODE INOVATIF YANG DILAKSANAKAN DI SEKOLAH BERTARAF
INTERNASIONAL[1]
Oleh :
Totok Triyadi, S.Si.
Guru Matematika SMK Negeri 2 Depok Sleman Yogyakarta
Abstrak
Dalam kurun
waktu kurang lebih 8 tahun terakhir dunia pendidikan di Indonesia menunjukkan
geliatnya. Geliat yang dimaksud adalah munculnya Rintisan Sekolah bertaraf
Internasional (RSBI) sebagai akibat dari pelaksanaan undang-undang sisdiknas
nomor 20 tahun 2003[2].
Undang-undang sisdiknas pada pasal 50 ayat ke 3) UU no 20 thn 2003 menyatakan bahwa
“Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu
satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi
satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”
Dalam
makalah ini akan dibahas Sekolah Bertaraf Internasional dengan memahami hakekat
metode yang digunakannya. Acuannya jelas, disini akan dibahas beberapa isu-isu
metode pembelajaran yang digunakan pada beberapa negara yang kita anggap
sebagai negara maju, diantaranya yang akan kita ulas : Amerika, Australia, Belanda,
RR Cina, Inggris dan Jepang.[3]
Kecenderungan
metode yang digunakan oleh negara-negara maju memiliki beberapa kesamaan.
Diantaranya yang pasti adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Dan diakhir
makalah ini akan diberikan sedikit gambaran beberapa metode inovatif yang dapat
digunakan untuk pembelajaran di Sekolah Bertaraf Internasional.
I.
PENDAHULUAN
Dengan
diterbitkannya UU no 20 tahun 2003 memberikan konsekuensi dengan keharusan
didirikannya Rintisan Sekolah bertaraf Internasional (RSBI). Sebagaimana
tercantum dalam UU sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pada pasal 50 ayat ke 3) yang
menyatakan bahwa “Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu
satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi
satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”
Adanya
“kewajiban” bahwa setiap daerah untuk menyelenggarakan pendidikan bertaraf
internasional pada setiap jenjang di satu sisi perlu kita apresiasi sebagai
wujud keadilan dan pemerataan kualitas pendidikan. Alasan lain yaitu persaingan
global menuntut SDM yang mampu bersaing di tingkat global serta perlu membangun
sekolah berkualitas sebagai pusat unggulan (center of excellence) pendidikan
sebagai salah satu startegi dalam
meningkatkan mutu pendidikan.[4]
Namun di
sisi yang lain, kurangnya pemahaman tentang sekolah bertaraf internasional baik
dari pemerintah daerah maupun stake
holder sekolah yang dijadikan rintisan sekolah bertaraf internasional
menjadikan kendala tersendiri bagi penyelenggaraan RSBI sesuai target waktu
yang ditentukan untuk menjadi SBI. Satu kasus yang nampaknya menjadi keumuman
terjadi pada penyelenggaraan RSBI adalah prioritas utama pada pengubahan bahasa
pengantar pembelajaran menjadi bilingual dengan bahasa Inggris, yang menurut
Prof. Dr.rer.nat. Widodo (Presiden Indonesian Mathematics Society) seharusnya
ada di prioritas ke-4. Lebih lanjut disampaikan oleh Prof. Dr.rer.nat. Widodo
seharusnya prioritas pertama dan utama adalah menyesuaikan Kurikulum yang
setara atau bertaraf internasional.[5]
Kurikulum
adalah satu sistem salah satu kajian yang menarik, karena dalam Permendiknas
nomor 78 tahun 2009 pada pasal 4 ayat 1 disebutkan bahwa Kurikulum SBI disusun
berdasarkan standar isi dan standar kompetensi lulusan yang diperkaya dengan
standar dari negara anggota OECD atau negara maju lainnya. Implikasinya adalah
berpengaruh langsung kepada proses pembelajarannya. Lebih khusus lagi tentang
metode yang digunakannya.
Lebih lanjut
dalam pasal berikutnya yaitu pasal ke 5 ayat 2 menjelaskan bahwa proses
pembelajaran pada SBI yang dilaksanakan sesuai standar proses yang diperkaya
dengan model proses pembelajaran di negara anggota OECD atau negara maju
lainnya, diharapkan menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi
informasi dan komunikasi, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan
kontekstual.
Dari uraian
singkat diatas dapat kita peroleh beberapa kesimpulan mengenai metode yang
digunakan pada Sekolah Bertaraf Internasional yaitu :
1.
Acuan baik
kurikulum maupun metode yang digunakan SBI harus sesuai dengan standar proses
yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara anggota OECD atau
negara maju lainnya.
2.
Proses pembelajaran
SBI menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan
komunikasi, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan kontekstual.
Sebelum kita membehas mengenai metode inovatif yang
sesuai dengan pendekatan harapan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi
informasi dan komunikasi, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan
kontekstual, kita perlu melihat isu-isu mengenai kurikulum/metode yang
digunakan oleh negara-negara maju.
II.
ISU-ISU KURIKULUM DAN METODE PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN
NEGARA-NEGARA MAJU
Sebelum pembahasan mengenai kurikulum dan metode yang
digunakan pada masing-masing negara maju. Ada baiknya kita melihat beberapa
statistik pendidikan pada beberapa negara sebagai perbandingan termasuk
Indonesia, untuk memberi gambaran posisi pendidikan Indonesia dibanding
negara-negara lain
Tabel1.
Perbandingan masa wajib wajib belajar, usia anak masuk pra-sekolah dan
persentase penduduk yang mampu tulis-baca (literasi).
no
|
negara
|
Wajib belajar
(thn)
|
Umur
masuk
prasekolah
|
%
Mampu
Tulis-baca
|
|
Batas
umur
|
lamanya
|
||||
1
|
Amerika
|
6-16
|
10
|
3
|
97 (1994)
|
2
|
Australia
|
6-15
|
10
|
4
|
100 (1996)
|
3
|
Belanda
|
5-18
|
13
|
4
|
100
|
4
|
RR Cina
|
7-15
|
9
|
3
|
82 (1996)
|
5
|
Inggris
|
5-16
|
11
|
3
|
100 (1993)
|
6
|
Jepang
|
6-15
|
9
|
3
|
100 (1997)
|
7
|
Jerman
|
6-18
|
12
|
3
|
100 (1993)
|
8
|
Kanada
|
6-16
|
10
|
4
|
97 (1994)
|
9
|
Korsel
|
6-15
|
9
|
5
|
98
|
10
|
Perancis
|
6-16
|
10
|
2
|
99 (1994)
|
11
|
Rusia
|
6-15
|
9
|
3
|
99
|
12
|
Indonesia
|
7-15
|
9
|
5
|
84
|
Sumber: Unesco Statistical Yearbook & The World
Almanac and Book of Facts, (yang dikutip dari Agustyar, 2001:322-323)
Dari tabel terlihat bahwa jika dibanding dengan negara-negara maju
Indonesia tidak jauh berbeda dalam hal lamanya wajib belajar serta usia masuk
pra-sekolah. Di Indonesia lama wajib belajar adalah 9 tahun (6 tahun di SD dan
3 tahun SMP), sama dengan lama wajib belajar di RR Cina Jepang, Korsel dan
Rusia. Sementara negara yang dipandang lebih “maju” menerapkan wajib belajar
lebih lama yaitu 10 tahun (Amerika, Australia Kanada & Peracis), 11 tahun
di Inggris, 12 tahun di Jerman sementara di Belanda menerapkan wajib belajar 13
tahun. Namun dengan catatan masing-masing negara tidak sama dalam usia anak
memulai belajar di prasekolah. Di Indonesia, seorang anak lebih “lambat” dalam
mulai masuk usia prasekolah dan sekolah formalnya. Bila dibanding dengan
negara-negara lainnya memang menunjukkan perbedaan yang mencolok. Sementara itu
statistik persentase mampu tulis-baca warganya, terlihat memang Indonesia
cenderung masih di bawah negara-negara “maju”. Negara yang mencapai persentase
100% (Australia, Belanda, Inggris, Jepang dan Jerman) tentunya menunjukkan
kualitas pendidikannya lebih maju dibanding negara dengan persentase lebih
rendah. Semua gambaran ini menunjukkan bahwa Indonesia memang masih perlu
berbenah untuk mengembangkan sekolah bertaraf internasional. Dan memang tidak
ada salahnya bila kita perlu melihat perkembangan yang terjadi di negara-negara
lain terutama disini yang akan kita lihat adalah mengenai Isu-isu Kurikulum dan
Metode pembelajarannya. berikut akan kita ulas sekilas beberapa negara
tersebut.
1.
Amerika Serikat
Pada akhir
abad ke-19, di Amerika muncul tuntutan untuk mengubah kurikulum dan metode
mengajar dengan mengarahkan pada kebutuhan-kebutuhan murid yang berbeda-beda.
Kemudian, muncul inovasi-inovasi baru seperti perlunya integrated curriculum, student-centered teaching method, individualized
instruction (pengajaran atas dasar kemampuan dan minat individu) dan sekolah alternatif.
2.
Australia
Di Australia,
Seksi Kurikulum Departemen pendidikan, Dewan Penelitian pendidikan Australia
(ACER), Puast pengembangan kurikulum (CDC), penerbit buku-buku akademik
komersial, dan asosiasi guru-guru bidang studi menyiapkan buku-buku pelajaran
dan ujian. Oleh karena terdapat variasi dalamhal pengembangan kurikulum, maka
terdapat pula perbedaan dalam pengimplementasiannya. Sementara tanggung jawab
tentang metodologi pengajaran terletak pada masing-masing guru dan sekolah
3.
Belanda
Pada tingkat
sekolah dasar, rencana kerja dan isi program pendidikan (berisi pilihan materi
pelajaran, metode mengajar, cara/teknik pengukurannya, penilaian dan pelaporan)
ditetapkan minimal sekali dalam dua tahun dalam bentuk proposal dari guru-guru.
Sementara pada sekolah menengah, staf pengajar menyusun silabi dan rancangan
pelajaran yang juga di review oleh inspektorat.
4.
RR Cina
Mengingat besarnya
perbedaan antara sosial ekonomi daerah-daerah, maka komisi pendidikan negara
(SEDC) membolehkan fleksibilitas penggunaan pedoman kurikulum oleh propinsi, daerah-daerah
istimewa, dan kotamadya. Penyesuaian perlu dilakukan berdasar kondisi setempat,
sejauh persyaratan dasar kurikulum dipenuhi.
5.
Inggris
Di UK tidak
ada kurikulum yang ditentukan secara nasional. Akan tetapi badan-badan yang
mengurus ujian serta mengawasi General Certificate of education menghendaki
kesamaan kurikulum. Walaupun telah tiga dekade dilakukan percobaan dan inovasi,
metode mengajar sekolah masih saja sebagian besar bersifat tradisional, yaitu
penyajian oleh guru, diskusi dan belajar sendiri. Iniberarti bahwa metode
mengajar tetap saja statis, karena sekolah-sekolah dasar memang sudah melihat
adanya perubahan semenjak tahun 50-an
6.
Jepang
Kurikulum sekolah
didasarkan pada program studi seperti yang ditentukan oleh kementerian
pendidikan. Ketentuan itu menetapkan kerangka dasar kurikulum untuk setiap level
termasuk didalamnya : obyektif, isi instruksional, dan waktu yang disediakan. Dewan
pendidikan distrik dan kotapraja menyiapkan pedoman atau panduan pengembangan
kurikulum di sekolah dalam daerah mereka, dan masing-masing sekolah diminta
menjabarkannya kedalam program-program yang lebih rinci tetapi tetap mengikuti
pedoman yang telah diberikan.
III.
BEBERAPA METODE PEMBELAJARAN
1.
Direct
teaching methods
2.
Student-centred
methods
3.
Discovery learning
4.
Problem-based learning
5.
Project-based learning
6.
Resource-based learning
7.
Computer-assisted learning
8.
Cooperative learning
9.
Peer tutoring and peer assistance
IV.
PENGUATAN METODE UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER[6]
Terkait dengan pendidikan karakter, beberapa metode yang
dapat menunjang pendidikan karakter antara lain :
NILAI BUDAYA
DAN KARAKTER BANGSA
|
PENGUATAN
|
Relijius
|
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
|
Jujur
|
Metode tanya-jawab
Model proyek
|
Toleransi
|
Metode tanya-jawab
Model cooperatif-learning
Model investigasi
|
Disiplin
|
Pendekatan pemecahan masalah
Metode ekspositori
|
Kerja Keras
|
Metode drill dan latihan
Model proyek
|
Kreatif
|
Pendekatan pemecahan masalah
Pendekatan open-ended
Pendekatan Problem Posing
Strategi membuat gambar/diagram
Pendekatan (model) realistik/kontekstual
Metode demonstrasi
Metode penemuan
Metode inkuiri
|
Mandiri
|
Metode penemuan (terbimbing)
Metode pemberian tugas
|
Demokratis
|
Model cooperatif-learning
|
Rasa Ingin Tahu
|
Pendekatan (model) realistik/kontekstual
Pendekatan pemecahan masalah
Pendekatan Problem Posing
Metode penemuan (terbimbing)
Metode inkuiri
|
Semangat Kebangsaan
|
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
|
Cinta Tanah Air
|
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
|
Menghargai Prestasi
|
Metode penemuan (terbimbing)
Metode inkuiri
Metode demonstrasi
|
Bersahabat /Komunikatif
|
Model cooperatif-learning
Metode tanya-jawab
|
Cinta Damai
|
Model cooperatif-learning
|
Gemar Membaca
|
Pendekatan pembelajaran berbasis sumber
|
Peduli Lingkungan
|
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
|
Peduli Sosial
|
Model cooperatif-learning
|
Tanggung-jawab
|
Metode drill dan latihan
Metode pemberian tugas
Model proyek
|
Selain
nilai yang termuat dalam nilai budaya dan karakter bangsa yang termuat diatas,
dengan penguatan metodologi yang tepat diharapkan juga dapat menanamkan
pendidikan karakter yang lain, sebagaimana tercantum dalam tabel berikut.
PENGUATAN
|
NILAI KARAKTER[1]
|
Metode Inkuiri
|
Inovatif
|
Metode drill dan latihan
|
Dapat diandalkan
|
Metode pemberian tugas
|
Dapat diandalkan
|
Metode penemuan
|
Inovatif
|
Metode permainan
|
Menyenangkan/joyfull
|
Metode tanya jawab
|
Saling menghormati
|
Model kooperatif learning
|
Dapat bekerjasama dalam tim
Berpikiran terbuka
Rendah hati
Saling menghormati
Mudah beradaptasi
Peduli
Suka menolong
|
Model Proyek
|
Bertanggung jawab
Dapat dipercaya
Percaya diri
Dapat diandalkan
Bervisi/memiliki pandangan ke depan
|
Pendekatan Konstruktivisme
|
Fokus
|
Pendekatan open-ended
|
Banyak akal
|
Pendekatan
Problem Posing
|
Banyak akal
Percaya diri
Berpikiran
terbuka
|
Pendekatan Pemecahan masalah
|
Tegas
Dapat diandalkan
Cermat-teliti
Berhati-hati
Banyak akal
|
Pendekatan realistik
|
Inovatif
|
V.
PENUTUP
demikian tulisan ini semoga dapat bermanfaat, banyak kekurangan karena banyaknya referensi yang harus saya tulis ulang, sehingga informasinya tidak semuanya tersampaikan karena ada yang dipotong.
[1] Diolah dari
: Stevenson N (2006), Erman Suherman Ar (2001), Rachmadi Widdiharto, Drs. MA.
(2004), Al Krismanto, M.Sc. (2003)
[4] __, “KEBIJAKAN
SBI dan
RSBI”, Kemdinas Ditjend Mandikdasmen Dit PSMA Subdit Kelembagaan Sekolah 2010
[5] Disampaikan
oleh Prof. Dr.rer.nat Widodo sebagai keynote
speaker pada seminar nasional matematika dan pendidikan matematika di FMIPA
UNY pada tgl 3 desember 2011.
[6] Totok
triyadi, S.Si. 2011. “Penguatan metodologi untuk menerapkan pendidikan karakter
secara optimal”. Makalah seminar nasional matematika dan pendidikan matematika
di FMIPA UNY pada tgl 3 desember 2011
Langganan:
Entri (Atom)