Selasa, 13 Desember 2011

MEMAHAMI HAKEKAT METODE INOVATIF YANG DILAKSANAKAN DI SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL


MEMAHAMI HAKEKAT METODE INOVATIF YANG DILAKSANAKAN DI SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL[1]

Oleh :
Totok Triyadi, S.Si.
Guru Matematika SMK Negeri 2 Depok Sleman Yogyakarta

Abstrak
Dalam kurun waktu kurang lebih 8 tahun terakhir dunia pendidikan di Indonesia menunjukkan geliatnya. Geliat yang dimaksud adalah munculnya Rintisan Sekolah bertaraf Internasional (RSBI) sebagai akibat dari pelaksanaan undang-undang sisdiknas nomor 20 tahun 2003[2]. Undang-undang sisdiknas pada pasal 50 ayat ke 3) UU no 20 thn 2003 menyatakan bahwa “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.
Dalam makalah ini akan dibahas Sekolah Bertaraf Internasional dengan memahami hakekat metode yang digunakannya. Acuannya jelas, disini akan dibahas beberapa isu-isu metode pembelajaran yang digunakan pada beberapa negara yang kita anggap sebagai negara maju, diantaranya yang akan kita ulas : Amerika, Australia, Belanda, RR Cina, Inggris dan Jepang.[3]
Kecenderungan metode yang digunakan oleh negara-negara maju memiliki beberapa kesamaan. Diantaranya yang pasti adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Dan diakhir makalah ini akan diberikan sedikit gambaran beberapa metode inovatif yang dapat digunakan untuk pembelajaran di Sekolah Bertaraf Internasional.

I.                   PENDAHULUAN
Dengan diterbitkannya UU no 20 tahun 2003 memberikan konsekuensi dengan keharusan didirikannya Rintisan Sekolah bertaraf Internasional (RSBI). Sebagaimana tercantum dalam UU sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pada pasal 50 ayat ke 3) yang menyatakan bahwa “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.
Adanya “kewajiban” bahwa setiap daerah untuk menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional pada setiap jenjang di satu sisi perlu kita apresiasi sebagai wujud keadilan dan pemerataan kualitas pendidikan. Alasan lain yaitu persaingan global menuntut SDM yang mampu bersaing di tingkat global serta perlu membangun sekolah berkualitas sebagai pusat unggulan (center of excellence) pendidikan sebagai  salah satu startegi dalam meningkatkan mutu pendidikan.[4]
Namun di sisi yang lain, kurangnya pemahaman tentang sekolah bertaraf internasional baik dari pemerintah daerah maupun stake holder sekolah yang dijadikan rintisan sekolah bertaraf internasional menjadikan kendala tersendiri bagi penyelenggaraan RSBI sesuai target waktu yang ditentukan untuk menjadi SBI. Satu kasus yang nampaknya menjadi keumuman terjadi pada penyelenggaraan RSBI adalah prioritas utama pada pengubahan bahasa pengantar pembelajaran menjadi bilingual dengan bahasa Inggris, yang menurut Prof. Dr.rer.nat. Widodo (Presiden Indonesian Mathematics Society) seharusnya ada di prioritas ke-4. Lebih lanjut disampaikan oleh Prof. Dr.rer.nat. Widodo seharusnya prioritas pertama dan utama adalah menyesuaikan Kurikulum yang setara atau bertaraf internasional.[5]
Kurikulum adalah satu sistem salah satu kajian yang menarik, karena dalam Permendiknas nomor 78 tahun 2009 pada pasal 4 ayat 1 disebutkan bahwa Kurikulum SBI disusun berdasarkan standar isi dan standar kompetensi lulusan yang diperkaya dengan standar dari negara anggota OECD atau negara maju lainnya. Implikasinya adalah berpengaruh langsung kepada proses pembelajarannya. Lebih khusus lagi tentang metode yang digunakannya.
Lebih lanjut dalam pasal berikutnya yaitu pasal ke 5 ayat 2 menjelaskan bahwa proses pembelajaran pada SBI yang dilaksanakan sesuai standar proses yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara anggota OECD atau negara maju lainnya, diharapkan menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan kontekstual.
Dari uraian singkat diatas dapat kita peroleh beberapa kesimpulan mengenai metode yang digunakan pada Sekolah Bertaraf Internasional yaitu :
1.      Acuan baik kurikulum maupun metode yang digunakan SBI harus sesuai dengan standar proses yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara anggota OECD atau negara maju lainnya.
2.      Proses pembelajaran SBI menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan kontekstual.
Sebelum kita membehas mengenai metode inovatif yang sesuai dengan pendekatan harapan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan kontekstual, kita perlu melihat isu-isu mengenai kurikulum/metode yang digunakan oleh negara-negara maju.
II.                ISU-ISU KURIKULUM DAN METODE PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN NEGARA-NEGARA MAJU
Sebelum pembahasan mengenai kurikulum dan metode yang digunakan pada masing-masing negara maju. Ada baiknya kita melihat beberapa statistik pendidikan pada beberapa negara sebagai perbandingan termasuk Indonesia, untuk memberi gambaran posisi pendidikan Indonesia dibanding negara-negara lain
Tabel1. Perbandingan masa wajib wajib belajar, usia anak masuk pra-sekolah dan persentase penduduk yang mampu tulis-baca (literasi).
no
negara
Wajib belajar (thn)
Umur
masuk
prasekolah
%
Mampu
Tulis-baca
Batas
umur
lamanya
1
Amerika
6-16
10
3
97 (1994)
2
Australia
6-15
10
4
100 (1996)
3
Belanda
5-18
13
4
100
4
RR Cina
7-15
9
3
82 (1996)
5
Inggris
5-16
11
3
100 (1993)
6
Jepang
6-15
9
3
100 (1997)
7
Jerman
6-18
12
3
100 (1993)
8
Kanada
6-16
10
4
97 (1994)
9
Korsel
6-15
9
5
98
10
Perancis
6-16
10
2
99 (1994)
11
Rusia
6-15
9
3
99
12
Indonesia
7-15
9
5
84
Sumber: Unesco Statistical Yearbook & The World Almanac and Book of Facts, (yang dikutip dari Agustyar, 2001:322-323)
Dari tabel terlihat bahwa jika dibanding dengan negara-negara maju Indonesia tidak jauh berbeda dalam hal lamanya wajib belajar serta usia masuk pra-sekolah. Di Indonesia lama wajib belajar adalah 9 tahun (6 tahun di SD dan 3 tahun SMP), sama dengan lama wajib belajar di RR Cina Jepang, Korsel dan Rusia. Sementara negara yang dipandang lebih “maju” menerapkan wajib belajar lebih lama yaitu 10 tahun (Amerika, Australia Kanada & Peracis), 11 tahun di Inggris, 12 tahun di Jerman sementara di Belanda menerapkan wajib belajar 13 tahun. Namun dengan catatan masing-masing negara tidak sama dalam usia anak memulai belajar di prasekolah. Di Indonesia, seorang anak lebih “lambat” dalam mulai masuk usia prasekolah dan sekolah formalnya. Bila dibanding dengan negara-negara lainnya memang menunjukkan perbedaan yang mencolok. Sementara itu statistik persentase mampu tulis-baca warganya, terlihat memang Indonesia cenderung masih di bawah negara-negara “maju”. Negara yang mencapai persentase 100% (Australia, Belanda, Inggris, Jepang dan Jerman) tentunya menunjukkan kualitas pendidikannya lebih maju dibanding negara dengan persentase lebih rendah. Semua gambaran ini menunjukkan bahwa Indonesia memang masih perlu berbenah untuk mengembangkan sekolah bertaraf internasional. Dan memang tidak ada salahnya bila kita perlu melihat perkembangan yang terjadi di negara-negara lain terutama disini yang akan kita lihat adalah mengenai Isu-isu Kurikulum dan Metode pembelajarannya. berikut akan kita ulas sekilas beberapa negara tersebut.
1.      Amerika Serikat
Pada akhir abad ke-19, di Amerika muncul tuntutan untuk mengubah kurikulum dan metode mengajar dengan mengarahkan pada kebutuhan-kebutuhan murid yang berbeda-beda. Kemudian, muncul inovasi-inovasi baru seperti perlunya integrated curriculum, student-centered teaching method, individualized instruction (pengajaran atas dasar kemampuan dan minat individu) dan sekolah alternatif.
2.      Australia
Di Australia, Seksi Kurikulum Departemen pendidikan, Dewan Penelitian pendidikan Australia (ACER), Puast pengembangan kurikulum (CDC), penerbit buku-buku akademik komersial, dan asosiasi guru-guru bidang studi menyiapkan buku-buku pelajaran dan ujian. Oleh karena terdapat variasi dalamhal pengembangan kurikulum, maka terdapat pula perbedaan dalam pengimplementasiannya. Sementara tanggung jawab tentang metodologi pengajaran terletak pada masing-masing guru dan sekolah
3.      Belanda
Pada tingkat sekolah dasar, rencana kerja dan isi program pendidikan (berisi pilihan materi pelajaran, metode mengajar, cara/teknik pengukurannya, penilaian dan pelaporan) ditetapkan minimal sekali dalam dua tahun dalam bentuk proposal dari guru-guru. Sementara pada sekolah menengah, staf pengajar menyusun silabi dan rancangan pelajaran yang juga di review oleh inspektorat.
4.      RR Cina
Mengingat besarnya perbedaan antara sosial ekonomi daerah-daerah, maka komisi pendidikan negara (SEDC) membolehkan fleksibilitas penggunaan pedoman kurikulum oleh propinsi, daerah-daerah istimewa, dan kotamadya. Penyesuaian perlu dilakukan berdasar kondisi setempat, sejauh persyaratan dasar kurikulum dipenuhi.
5.      Inggris
Di UK tidak ada kurikulum yang ditentukan secara nasional. Akan tetapi badan-badan yang mengurus ujian serta mengawasi General Certificate of education menghendaki kesamaan kurikulum. Walaupun telah tiga dekade dilakukan percobaan dan inovasi, metode mengajar sekolah masih saja sebagian besar bersifat tradisional, yaitu penyajian oleh guru, diskusi dan belajar sendiri. Iniberarti bahwa metode mengajar tetap saja statis, karena sekolah-sekolah dasar memang sudah melihat adanya perubahan semenjak tahun 50-an
6.      Jepang
Kurikulum sekolah didasarkan pada program studi seperti yang ditentukan oleh kementerian pendidikan. Ketentuan itu menetapkan kerangka dasar kurikulum untuk setiap level termasuk didalamnya : obyektif, isi instruksional, dan waktu yang disediakan. Dewan pendidikan distrik dan kotapraja menyiapkan pedoman atau panduan pengembangan kurikulum di sekolah dalam daerah mereka, dan masing-masing sekolah diminta menjabarkannya kedalam program-program yang lebih rinci tetapi tetap mengikuti pedoman yang telah diberikan.
III.             BEBERAPA METODE PEMBELAJARAN
1.      Direct teaching methods
2.      Student-centred methods
3.      Discovery learning
4.      Problem-based learning
5.      Project-based learning
6.      Resource-based learning
7.      Computer-assisted learning
8.      Cooperative learning
9.      Peer tutoring and peer assistance

IV.             PENGUATAN METODE UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER[6]
Terkait dengan pendidikan karakter, beberapa metode yang dapat menunjang pendidikan karakter antara lain :
NILAI BUDAYA
DAN KARAKTER BANGSA
PENGUATAN
Relijius
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
Jujur
Metode tanya-jawab
Model proyek
Toleransi
Metode tanya-jawab
Model cooperatif-learning
Model investigasi
Disiplin
Pendekatan pemecahan masalah
Metode ekspositori
Kerja Keras
Metode drill dan latihan
Model proyek
Kreatif
Pendekatan pemecahan masalah
Pendekatan open-ended
Pendekatan Problem Posing
Strategi membuat gambar/diagram
Pendekatan (model) realistik/kontekstual
Metode demonstrasi
Metode penemuan
Metode inkuiri
Mandiri
Metode penemuan (terbimbing)
Metode pemberian tugas
Demokratis
Model cooperatif-learning
Rasa Ingin Tahu
Pendekatan (model) realistik/kontekstual
Pendekatan pemecahan masalah
Pendekatan Problem Posing
Metode penemuan (terbimbing)
Metode inkuiri
Semangat Kebangsaan
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
Cinta Tanah Air
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
Menghargai Prestasi
Metode penemuan (terbimbing)
Metode inkuiri
Metode demonstrasi
Bersahabat /Komunikatif
Model cooperatif-learning
Metode tanya-jawab
Cinta Damai
Model cooperatif-learning
Gemar Membaca
Pendekatan pembelajaran berbasis sumber
Peduli Lingkungan
Sisipan langsung, dapat dengan contoh atau soal cerita.
Peduli Sosial
Model cooperatif-learning
Tanggung-jawab
Metode drill dan latihan
Metode pemberian tugas
Model proyek
Selain nilai yang termuat dalam nilai budaya dan karakter bangsa yang termuat diatas, dengan penguatan metodologi yang tepat diharapkan juga dapat menanamkan pendidikan karakter yang lain, sebagaimana tercantum dalam tabel berikut.
PENGUATAN
NILAI KARAKTER[1]
Metode Inkuiri
Inovatif
Metode drill dan latihan
Dapat diandalkan
Metode pemberian tugas
Dapat diandalkan
Metode penemuan
Inovatif
Metode permainan
Menyenangkan/joyfull
Metode tanya jawab
Saling menghormati
Model kooperatif learning
Dapat bekerjasama dalam tim
Berpikiran terbuka
Rendah hati
Saling menghormati
Mudah beradaptasi
Peduli
Suka menolong
Model Proyek
Bertanggung jawab
Dapat dipercaya
Percaya diri
Dapat diandalkan
Bervisi/memiliki pandangan ke depan
Pendekatan Konstruktivisme
Fokus
Pendekatan open-ended
Banyak akal
Pendekatan Problem Posing
Banyak akal
Percaya diri
Berpikiran terbuka
Pendekatan Pemecahan masalah
Tegas
Dapat diandalkan
Cermat-teliti
Berhati-hati
Banyak akal
Pendekatan realistik
Inovatif


V.                PENUTUP
demikian tulisan ini semoga dapat bermanfaat, banyak kekurangan karena banyaknya referensi yang harus saya tulis ulang, sehingga informasinya tidak semuanya tersampaikan karena ada yang dipotong.







[1] Diolah dari : Stevenson N (2006), Erman Suherman Ar (2001), Rachmadi Widdiharto, Drs. MA. (2004), Al Krismanto, M.Sc. (2003)


[1] Disampaikan dalam kuliah filsafat ilmu dengan pengampu Dr. Marsigit
[2] _,UU no 20 tahun 2003 hal : 16
[3] Agustyar Syah Nur, M.A. Prof.Dr.H. 2001
[4] __, “KEBIJAKAN SBI  dan  RSBI”, Kemdinas Ditjend Mandikdasmen Dit PSMA Subdit Kelembagaan Sekolah 2010
[5] Disampaikan oleh Prof. Dr.rer.nat Widodo sebagai keynote speaker pada seminar nasional matematika dan pendidikan matematika di FMIPA UNY pada tgl 3 desember 2011.
[6] Totok triyadi, S.Si. 2011. “Penguatan metodologi untuk menerapkan pendidikan karakter secara optimal”. Makalah seminar nasional matematika dan pendidikan matematika di FMIPA UNY pada tgl 3 desember 2011